Senin, 10 November 2014

penyakit filariasis



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimana atas berkat dan rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah Seminar Biologi dengan judul “Pengenalan Penyakit Filariasis”. Selain itu penulis juga mengucapkan rasa terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Seminar Biologi ini yaitu Dra. Masdiana Sinambela, Msi.
Adapun yang akan dibahas dalam makalah ini adalah seperti pengertian penyakit filariasis, penyebab penyakit filariasis, cara penularan penyakit filariasis,gejala dari penyakit filariasis dan bagaimana cara mencegah dan mengobati penyakit filariasisi.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah tidak luput dari banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa bersama kita.


                                                                                       Medan, 5 mei 2014

                                                                                       Mustika Sari tumangger
                                                                                       Nim : 4122141011





DAFTAR ISI
   Halaman
Kata Pengantar                                                                                                  i
Daftar Isi                                                                                                            ii
Daftar Gambar                                                                                                   iii
BAB  I  PENDAHULUAN                                                                              1
  1.1  Latar Belakang                                                                                          1
BAB  II  ISI                                                                                                      2
  2.1 Definisi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis)                     2
  2.2 Penyebab Penyakit Filariasis                                                                      3
  2.3 Cara Penularan Filariasis                                                                            4
  2.4 Gejala dan Tanda-tanda Penyakit Filariasis                                               6
  2.5 Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Kaki Gajah                                          6
  2.6 Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis                     7
BAB  III  PENUTUP                                                                                        9
  3.1 simpulan                                                                                                     9
DAFTAR PUSTAKA                                                                                       10
LAMPIRAN                                                                                                      11       









DAFTAR GAMBAR
                                                                                                                                                                                                                                            Halaman
Gambar 2.1 Manusia terkena penyakit filariasis                                                2
Gambar 2.2 Mikrofilaria Wuchereria bancrofti (A), Brugia malayi (B),
                    Brugia timori (C)                                                                            4
Gambar 2.3. Siklus penularan filariasis Wuchereria bancofti                            5                     


















BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Filariasis atau elephantiasis atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit kaki gajah, dan di beberapa daerah menyebutnya untut adalah penyakit yang disebabkan karena infeksi cacing filaria.
Penyakit kaki gajah disebabkan oleh cacing dari kelompok nematoda, yaitu Wucheraria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Ketiga jenis cacing tersebut menyebabkan penyakit kaki gajah dengan cara penularan dan gejala klinis, serta pengobatan yang sama. Cacing betina akan menghasilkan (melahirkan) larva, disebut mikrofilaria, yang akan bermigrasi kedalam sistem peredaran darah. Penyakit kaki gajah terutama disebabkan karena adanya cacing dewasa yang hidup di saluran getah bening. Cacing tersebut akan merusak saluran getah bening yang mengakibatkan cairan getah bening tidak dapat tersalurkan dengan baik sehingga menyebabkan pembengkakan pada tungkai dan lengan. Cacing dewasa mampu bertahan hidup selama 5 – 7 tahun di dalam kelenjar getah bening. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia.











BAB II
ISI

2.1.         Definisi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis)
Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Setelah tergigit nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka berkembanglah menjadi penyakit tersebut. Tidak seperti Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena inilah, Filariasis dapat menular dengan sangat cepat.
Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas.
Gambar 2.1 Orang terkena penyakit filariasis
(sumber: hhtp//www.filariasis.org)
Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Penyakit Kaki Gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan memalukan bahkan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.
Penyakit Kaki Gajah umumnya banyak terdapat pada wilayah tropis. Menurut info dari WHO, urutan negara yang terdapat penderita mengalami penyakit kaki gajah adalah Asia Selatan (India dan Bangladesh), Afrika, Pasifik dan Amerika. Belakangan banyak pula terjadi di negara Thailan dan Indonesia (Asia Tenggara).
2.2.         Penyebab penyakit filariasis
               Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia terutama dalam kelenjar getah bening dan darah. Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4-6 tahun dan dalam tubuh manusia cacing dewasa betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar dalam darah terutama malam hari.
1. Wuchereria bancrofti.
Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran kalenjar limfe, bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. Cacing betina berukuran 65 – 100 mm x 0,25 mm dan cacing jantan 40 mm x 0,1 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung dengan ukuran 250 – 300 mikron x 7 - 8 mikron. Mikrofilaria ini hidup didalam darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu tertentu saja, jadi mempunyai periodisitas. Pada umumnya, mikrofilaria W. bancrofti bersifat periodisitas nokturna, artinya mikrofilaria hanya terdapat di dalam tepi pada waktu malam.
2.  Brugia malayi dan Brugia timori.
Cacing dewasa berbentuk silindrik seperti benang, berwarna putih kekuningan. Pada ujung anteriornya terdapat mulut tanpa bibir dan dilengkapi baris papila 2 buah, baris luar 4 buah dan baris dalam 10 buah. Cacing betina berukuran 55x0,16 mm dengan ekor lurus, vulva mempunyai alur tranfersal dan langsung berhubungan dengan vagina membentuk saluran panjang. Cacing jantan berukuran 23x0,09 mm, ekor melingkar dan bagian ujugnya terdapat papila 3-4 buah, dan dibelakang anus terdapat sepotong papila.
 
(A)                                   (B)                                     (C)
Gambar 2.2 Mikrofilaria Wuchereria bancrofti (A), Brugia malayi (B), dan Brugia timori (C).
(Sumber : Juni Prianto L.A. dkk., 1999)

2.3.  Cara Penularan Filariasis
Cacing yang diisap nyamuk tidak begitu saja dipindahkan, tetapi sebelumnya tumbuh di dalam tubuh nyamuk. Makhluk mini itu berkembang dalam otot nyamuk. Sekitar 3 minggu, pada stadium 3, larva mulai bergerak aktif dan berpindah ke alat tusuk nyamuk. Nyamuk pembawa mikrofilaria itu lalu gentayangan menggigit manusia dan ”memindahkan” larva infektif tersebut.
Bersama aliran darah, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Uniknya, cacing terdeteksi dalam darah tepi pada malam hari, selebihnya bersembunyi di organ dalam tubuh. Selain manusia, untuk brugia malayi, sumber penularan penyakit juga bisa binatang liar, seperti kera dan kucing (hospes reservoir).
Setelah dewasa, cacing menyumbat pembuluh limfe dan menghalangi cairan limfe sehingga terjadi pembengkakan. Selain di kaki, pembengkakan bisa terjadi di tangan, payudara, atau buah zakar. ”Di tubuh manusia cacing itu menumpang makan dan hidup.Ketika menyumbat pembuluh limfe di selangkangan, misalnya, cairan limfe dari bawah tubuh tidak bisa mengalir sehingga kaki membesar. Dapat terjadi penyumbatan di ketiak, mengakibatkan pembesaran tangan.


Gambar 2.3. Siklus penularan filariasis Wuchereria bancofti
(sumber: hhtp//www.filariasis.org)
Siklus Penularan Filariasis
1.      Tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vektor ).:
·         Saat nyamuk (vektor) menghisap darah penderita (mikrofilaremia) beberapa mikrofilaria ikut terhisap bersama darah dan masuk dalam lambung nyamuk.
·         Setelah berada dalam lambung nyamuk, mikrofilaria melepas selubung, kemudian menerobos dinding lambung menuju ke rongga badan dan selanjutnya ke jaringan otot thoraks.
·         Dalam jaringan otot thoraks, larva stadium I (LI) berkembang menjadi bentuk larva stadium II (L2) dan selanjutnya berkembang menjadi stadium III (L3) yang efektif.
·         Waktu perkembangan dari L1 menjadi L3 disebut masa inkubasi ektrinsik, untuk spesies Wuchereria bancrofti antara 10-14 hr, Brugia malayi dan Brugia timori 7-10 hr. 5. St. LIII bergerak ke proboscis ( alat tusuk) nyamuk dan akan dipindahkan ke manusia pada saat nyamuk menggit.
·          Mikrofilaria didalam tubuh nyamuk hanya mengalami perubahan bentuk dan tidak berkembang biak (cyclicodevelopmental) sehingga diperlukan gigitan berulang kali utk terjadinya infeksi.
2. Tahap perkembangan dalam tubuh manusia dan hewan perantara ( hospes reservoir ) :
·         Didalam tubuh manusia cacing Wuchereria  akan menuju sistem limfe dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing dewasa jantan atau betina.
·         Melalui kopulasi, cacing betina menghasilkan mikrofilaria yg beredar dalam darah. Secara periodik seekor cacing betina akan mengeluarkan sekitar 50.000 larva setiap hari.
·         Perkembangan L3 menjadi cacing dewasa dan menghasilkan mikrofilaria W.bancrofti selama 9 bln dan B.malayi, B.timori selama 3 bulan di tubuh manusia.
·         Perkembangan seperti ini terjadi juga dalam tubuh hewan reservoar ( lutung dan kucing).
2.4.   Gejala dan Tanda-tanda Penyakit Filariasis
Gejala Filariais Akut dapat berupa:
·         Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat
·         Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit
·         Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
·         Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah
·         Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema).
2.5.    Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Kaki Gajah
Gold Standard untuk sebagian besar penyakit akibat infeksi parasit ialah menemukan parasit tersebut baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Dalam kasus filariasis, parasit berupa cacing dewasa hampir tidak mungkin ditemukan secara utuh karena terletak di dalam pembuluh limfe yang dalam dan berkelok-kelok. Karenanya diagnosis filariasis ditegakkan dengan penemuan mikrofilaria di darah tepi. Selain di darah tepi, mikrofilaria dapat pula ditemukan di cairan hidrokel, atau kadang-kadang di cairan tubuh lainnya. Cairan ini dapat diperiksa secara mikroskopis secara langsung atau disaring dulu konsentrasi parasit sudah mampu melewati filter pori silindris polikarbonat (ukuran pori sekitar 3 µm). Bisa juga cairan disentrifugasi dengan 2% formalin (teknik Knott) baru kemudian dapat dideteksi parasit mikrofilaria secara spesifik dan sensitif.
Yang tak boleh lupa ketika mengamati parasit ini, sediaan mesti diambil menurut perkiraan periodisitas sesuai spesies dan hospesnya. Biasanya untuk W.bancrofti sediaan diambil dari darah ketika malam hari, atau lazim dikenal sediaan darah malam. Meski demikian, tak jarang pula orang yang diperkirakan memiliki diagnosis filariasis ternyata tidak ditemukan mikrofilaria satu pun di darah tepinya.
Untuk diagnosis yang praktis dan cepat, sampai saat ini di samping sediaan darah malam ialah menggunakan ELISA dan rapid test dengan teknik imunokromatografik assay. Kedua pemeriksaan praktis ini mampu mendeteksi antigen dari mikrofilaria dan atau cacing dewasa dari darah tepi sehingga memiliki spesifisitas mendekati 100% dan sensitivitas antara 96 hingga 100%. Sayangnya, tes cepat ini hanya tersedia untuk spesies W.bancrofti, sementara belum ada tes yang adekuat untuk mikrofilaria Brugia.
Jika pasien sudah terdeteksi diduga kuat telah mengalami filariasis limfatik, penggunaan USG Doppler diperlukan untuk mendeteksi pergerakan cacing dewasa di tali sperma pria atau di kelenjar mammae wanita. Hampir 80% penderita filariasis limfatik pria mengalami pergerakan cacing dewasa di tali spermanya. Fenomena ini sering dikenal dengan filaria dance sign. Di luar metode di atas, terdapat pula teknik-teknik lain yang lebih spesifik namun biasanya hanya digunakan untuk penelitian, yakni PCR, deteksi serum IgE dan eosinofil, serta penggunaan limfoscintigrafi untuk mendeteksi pelebaran dan liku-liku pembuluh limfe

2.6.   Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis
                  1.  Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.
2.      Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibat Brugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC Upaya Rehabilitasi Filariasis
Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.

BAB  III
                                                       PENUTUP
3.1  Simpulan
Adapun yang dapat penulis simpulkan berdasarkan hasil penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam sistem limfe dan ditularkan oleh nyamuk. Bersifat menahun dan menimbulkan cacat menetap.
2.      Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing  filaria yang menginfeksi Manusia yaitu :
·               Wuchereria Bancrofti,
·               Brugia Timori,
·               Brugia Malayi.
3.      Cara penularannya yaitu Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghipas darah orang tersebut.










DAFTAR PUSTAKA

Anonim, http://penyembuhan-Penyakit Filariasis.blogspot.com/2013/05/obat-tradisional.html
A. Aziz Alimul H. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta
Drs. H. Syaifuddin, B.Ac. 1997. Anatomi Fisiologi. EGC : Jakarta
http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran. macam-macam penyakit  . diakses tanggal 20 Maret 2014













LAMPIRAN

1.      Penanya : Salmon Qinsa Silalahi
Pertanyaan : Apa fungsi kelenjar limpa?
Jawab : Sistem saluran limfa berhubungan erat dengan system sirkulasi darah. Darah meninggalkan jantung melalui arteri dan dikembalikan melalui vena. Sebagian cairan yang meninggalkan sirkulasi dikembalikan melalui saluran limfa yang merembes dalam ruang-ruang jaringan.sirkulasi limfa berfungsi mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah, membawa emulsi lemak dari usus ke sirkulasi darah, menyaring dan menghancurkan mikroorganisme dari tempat masuknya kedalam jaringan ke bagian lain dalam tubuh,pertahanan terhadap bibit penyakit, dapat menghasilkan leukosit.
2.      Penanya : Ruhmiati
Pertanyaan : Mengapa dalam pencegahan penyakit filariasis ini mengutamakan pemberantasan nyamuk?
Jawab : Karena nyamuk merupakan vector utama dalam penularan penyakit filariasis ini dari hospes reservoirnya, jadi jika jumlah vektornya berkurang secara otomatis penularan penyakit ini dapat berkurang juga.